Home Tak Berkategori Balqis: Masih Banyak yang Belum Paham Kesetaraan Gender

Balqis: Masih Banyak yang Belum Paham Kesetaraan Gender

Study Gender IPNU-IPPNU Ajibarang

by khotibul umam

BANYUMAS-Sebagian masyarakat di negeri ini sudah memahami dan menerapkan konsep kesetaraan gender. Namun, sebagian lagi masih belum memahami konsep tersebut dan lustrum kerap melakukan bias gender.

Itu dikatakan Anggota Komisi 4 DPRD Banyumas, Balqis Fadillah, pada study gender yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Anak Cabang Ajibarang, Sabtu 15 November 2025, di Aula MTs Tahfiz Alquran Ar Raudlah Tipar Kidul, Ajibarang, Banyumas.

“Bias gender adalah kondisi yang memihak dan merugikan salah satu gender sehingga menimbulkan diskriminasi gender. Sederhananya, bias gender merupakan kecenderungan untuk lebih memilih salah satu gender daripada yang lain. Bias gender terkadang terbentuk tanpa disadari. Ketika seseorang mengaitkan sikap dan stereotip tertentu dengan orang atau kelompok tertentu, tanpa sadar sebenarnya ia telah melakukan bias gender. Perilaku bias gender muncul karena ketidakadilan gender akibat sistem dan struktur sosial yang menempatkan kaum laki-laki ataupun perempuan pada posisi yang merugikan,” papar Balqis.

Menurut Ketua DPC PPP Banyumas itu, sebagai contoh, karena konstruksi sosial, kaum laki-laki dianggap lebih kompeten, lebih mampu, dan lebih superior daripada perempuan. Sebaliknya, perempuan dinilai lebih lemah dan tidak berdaya jika dibandingkan dengan laki-laki. Bias gender juga dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, pendidikan, hingga pekerjaan.

“Misalnya, dalam keluarga, suami enggan melakukan pekerjaan rumah tangga karena menganggap itu adalah tugas istri. Padahal, pekerjaan tersebut tidak memandang gender tertentu dan bisa dikerjakan oleh perempuan maupun laki-laki. Efek bias gender itu antara lain marginalisasi atau peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang menyebabkan kemiskinan. Konsep ini muncul karena banyak yang memaknai gender sama dengan seks. Anggapan tersebut menempatkan perempuan bukanlah pencari nafkah utama. Akibatnya, kaum perempuan cenderung mendapatkan gaji lebih rendah daripada laki-laki. Terlebih bagi mereka yang memiliki tingkat pendidikan rendah,” kata Balqis.

Bias gender, lanjut Balqis, juga dapat berbentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. Umumnya perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah, lembut, dan penurut. Pandangan itu kerap dijadikan alasan untuk memperlakukan perempuan secara semena-mena. Berbagai tindak kekerasan pun muncul, mulai dari KDRT, pemerkosaan, pelecehan seksual, prostitusi, sampai eksploitasi seks.

Plt Ketua IPPNU Anak Cabang Ajibarang, Fadelani Adha S, mengungkapkan study gender ini digelar 3 hari mengundang narasumber dari alumni IPNU-IPPNU dan tokoh masyarakat di Kecamatan Ajibarang. “Terima kasih Bu Balqis atas materi yang sangat menarik. Ini materi yang sangat bermanfaat,” kata Fadel.

Penulis: Khotibul Umam

Related Articles

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: