PEKUNCEN-Buku kumpulan puisi ‘Hadarh Nyai’ yang ditulis penyair Madura, Raedu Basha, Sabtu 30 Juli 2022, dibedah di PP Roudlatul Ilmi, Kranggan, Pekuncen,Banyumas. Acara yang digelar oleh Robithoh Ma’ahid Islamiyah ( RMI) Putri Banyumas itu, dihadiri puluhan nyai dan santriwati Banyumas.
Pengurus Yayasan Ar Ridlo, Pekuncen, Balqis Fadillah mengungkapkan, pihaknya berterimakasih, karena diberi kesempatan menjadi tuan rumah even literasi. “Bedah buku, menjadi acara yang baru pertama kali diselenggarakan di pondok kami. Semoga menginspirasi kesadaran literasi bagi para santri,” kata Balqis.
Menurut Balqis, sebenarnya sudah banyak santriwati dan aktivis RMI Putri di Banyumas yang mulai gemar menulis. Bahkan sdah lahir beberapa antologi puisi. “Hanya saja belum berani diterbitkan secara profesional,” ujar Balqis.
Ketua RMI Putri Banyumas, Hj Durotun Nafisah, SAg, MSI membuka bedah buku sekaligus membedah wacana. Menurutnya, bias gender jua terjadi di khasanah sastra. “Banyak perempuan hebat di negeri ini. Bahkan ada Malahayati, laksamana perempuan yang memimpin perang melawan Belanda,” katanya.
Menurutnya, sudah saatnya aktivis perempuan khususnya santriwati jangan ragu berekspresi melaui tulisan dan masuk ke dunia sastra. “Semoga acara literasi seperti ini akan terus menjadi agenda RMI. Diskusi-diskusi literasi sudah saatnya menjadi even dan acara rutin. Diharapkan akan lahir penulis-penulis dan sastrawan hebat dari kalangan santri,” ujar Durotun Nafisah.
Penyair asal Madura, Raedu Basha, antusias menjawab pertanyaan peserta bedah buku. Dia menuturkan, buku ‘Hadrah Nyai’ merupakan sekual dari buku sebelumnya ‘Hadrah Kiai’. Buku kumpulan puisi Hadrah Nyai, merangkum puisi dari 24 ulama perempuan di negeri ini.
“Proses penulisan Hadrah Nyai saya lakukan dalam kurun waktu lima tahun. Alhamdulillah bisa dibedah di sini. Semoga apa yang saya tuliskan bermanfaat,” kata Master of Arts Universitas Gadjah Mada Yogyakata itu.
Buku yang memuat narasi puitik perempuan-perempun cendekia dan perkasa itu juga dibacakan secara bergantian oleh peserta diskusi. Raedu sendiri juga didaulat membacakan puisi ‘Corongan Nyai Zainiyah Sukorejo’.
Diskusi yang dimoderatori wartawan senior Banyumas, Amin Roman itu berlangsung khidmat tapi juga cair dan ger-geran. Selain dihadiri para nyai dan santriwati, bedah buku juga dihadiri Presiden Geguritan Banyumas, Wanto Tirta dan penulis buku, Trisnatun.
Penulis: Khotibul Umam